METODIK.ID, Bandar Lampung, Minggu (25/10/2026) – Rencana pesta Halloween bertajuk Sisi Gelap di Alumbra Dine & Lounge, Jl. Yos Sudarso No. 273, Sukaraja, Bandar Lampung, menuai sorotan tajam, salah satunya dari Perkumpulan Alumni UIN Raden Intan Lampung. Acara itu dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026.
Berdasarkan informasi yang beredar, acara ini dikemas dengan narasi “Malam Keras & Pembunuhan Besar”. Panitia menghadirkan DJ Janna, DJ Dzaky, dan DJ D3rry, dipandu MC Yell, serta penampilan band rock Whiplash. Pengunjung juga diiming-imingi hadiah jutaan rupiah berupa satu botol Alux, dua botol Gold Royal, dan voucher makan senilai Rp1.000.000, dengan ajakan untuk “datang, berpakaian, dan belanjakan besar”. Acara ini disebut gratis masuk.
Koordinator Perkumpulan Alumni UIN Raden Intan Lampung, Fadli Khoms, menyatakan penolakan tegas terhadap kegiatan tersebut.
“Kami menolak keras. Perayaan Halloween dengan kostum dan simbol-simbol horor bukan bagian dari nilai agama maupun budaya masyarakat Lampung yang religius dan beradab. Jangan sampai Bandar Lampung dijadikan ruang untuk budaya yang bertentangan dengan jati diri daerah kita,” tegas Fadli.
Ia juga menyoroti materi promosi yang menjadikan minuman beralkohol sebagai hadiah serta mengajak pengunjung berbelanja besar. Menurutnya, hal itu berpotensi mendorong perilaku konsumtif dan berdampak buruk bagi generasi muda, terutama mahasiswa.
Fadli mendesak Pemerintah Kota Bandar Lampung dan aparat terkait tidak tinggal diam. “Pemkot harus segera turun tangan, mengevaluasi izin dan konsep acara ini sebelum digelar, bukan setelah polemik membesar. Pihak Alumbra juga kami minta bijak dan membatalkan rencana tersebut demi menjaga kondusivitas dan menghormati nilai-nilai masyarakat,” lanjutnya.
Menurut Fadli, penolakan ini bukan untuk membatasi usaha, melainkan untuk menjaga agar kegiatan hiburan tetap sejalan dengan norma yang dijunjung bersama.
“Silakan berusaha dan berinovasi, tetapi hormati nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Fadli menambahkan, pihaknya akan mengambil langkah lanjutan apabila tidak ada respons dari pemerintah.
“Kalau pemerintah kota tidak mengambil tindakan terkait perhelatan acara tersebut, kami akan menyiapkan massa untuk menggeruduk lokasi. Jangan sampai pemerintah terkesan membiarkan persoalan ini begitu saja,” tutup Fadli. (*)













Komentar