Residensi Sastra Cipta Puisi 2026 Resmi Dimulai, Ari Pahala Hutabarat Ajak Peserta Menemukan Puisi dari Pengalaman Dunia Kepenyairan hingga Proses Kreatif menulis puisi.

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026 - 11:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Timur — Residensi Sastra Cipta Puisi Tahun 2026 resmi dibuka dengan menghadirkan penyair nasional Ari Pahala Hutabarat sebagai narasumber di Gedung Nuwo Budayo, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menjadi tahap inkubasi lanjutan dari Sayembara Sastra Cipta Puisi yang diselenggarakan Lamban Budaya Nuswantara dalam rangka Festival Bahasa dan Sastra Tahun 2026.

Mengangkat tema “Menjaras Bahasa, Merawat Sastra”, Residensi Sastra Cipta Puisi dirancang sebagai ruang pembinaan, apresiasi, penciptaan, dan pengembangan kreativitas generasi muda di bidang sastra, khususnya puisi. Sebanyak 30 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum terpilih mengikuti rangkaian residensi tersebut.

Pada sesi pembukaan, Ari Pahala Hutabarat hadir sebagai narasumber utama untuk mengajak peserta mengenal dunia kepenyairan sekaligus memahami proses kreatif dalam menulis puisi. Dalam sesi tersebut, Raditio Wahid hadir sebagai teman ngobrol sekaligus pemantik diskusi, yang membantu membuka ruang dialog dan pertukaran gagasan antara narasumber dengan para peserta.

Format tersebut membuat proses pembelajaran berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai pengalaman menulis, cara menemukan gagasan, mengolah pengalaman menjadi puisi, serta melihat kemungkinan-kemungkinan baru dalam penggunaan bahasa puitik.

Ari mengajak peserta memahami bahwa menulis puisi tidak harus dimulai dari definisi atau teori yang rumit. Langkah pertama justru adalah menikmati puisi dengan membuka perasaan dan pengalaman. Menurut Ari, puisi berangkat dari apa yang disebutnya sebagai “pengalaman puitik”, yakni pengalaman atau perasaan yang kuat dan kemudian mendorong penyair untuk mengungkapkannya melalui bahasa. Karena itu, peserta didorong untuk tidak takut terhadap puisi dan tidak terbebani oleh anggapan bahwa puisi merupakan sesuatu yang sulit.

Dalam proses tersebut, peserta diperkenalkan pada pentingnya diksi atau pilihan kata. Ari menjelaskan bahwa kata-kata dalam puisi tidak dipilih secara sembarangan. Setiap kata perlu dipertimbangkan ketepatan bunyi dan maknanya serta kemampuannya mewakili pengalaman puitik penyair. Selain diksi, peserta juga diajak mengenali imaji atau citraan, yakni kemampuan bahasa untuk membuat pembaca seolah melihat, mendengar, mencium, menyentuh, atau mengalami sesuatu yang hadir dalam puisi.

Baca Juga :  Ketua DPRD Hadiri “Doa untuk Negeri” di Masjid Raya Al-Bakrie Lampung

Pembahasan kemudian diperluas pada unsur-unsur lain dalam puisi, seperti majas atau gaya bahasa, ritme, tema, pokok pikiran, rasa, nada, dan amanat. Unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dan membentuk keutuhan sebuah puisi. Peserta pun diarahkan untuk membaca puisi bukan hanya dengan mencari “arti yang benar”, tetapi dengan merasakan dan mencermati bagaimana bahasa bekerja di dalam teks.

Ari juga mengajak peserta melihat puisi dari perspektif yang lebih luas. Dalam materi “Puisi dan (Ilmu) Pengetahuan”, ia menjelaskan bahwa puisi dan ilmu pengetahuan sama-sama merupakan cara manusia menjumpai dan memahami dunia. Ilmu berusaha menyingkap dan mendefinisikan dunia, sementara sastra mempertahankan pertanyaan, rasa sangsi, ketakjuban, dan kemungkinan-kemungkinan makna. Dalam puisi, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi sekaligus menjadi bahan dan tujuan penciptaan.

Melalui pandangan tersebut, peserta diperkenalkan pada pentingnya mengolah bahasa sehingga pengalaman yang biasa dapat tampil dengan cara yang baru. Konsep defamiliarisasi menjadi salah satu pintu untuk memahami bagaimana bahasa sastra dapat mengubah cara seseorang melihat kenyataan. Puisi tidak hanya mengatakan sesuatu, tetapi juga menunjukkan bagaimana bahasa dapat bekerja secara artistik melalui bunyi, ritme, metafora, struktur, dan pilihan kata.

Dalam diskusi, peserta juga diajak melihat kembali kecenderungan puisi yang terlalu berpusat pada pengalaman pribadi. Ari tidak menolak pengalaman personal sebagai sumber puisi, tetapi mendorong penyair untuk tidak berhenti pada persoalan “aku”. Pengalaman pribadi dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas, seperti sejarah, masyarakat, lingkungan, kebudayaan, filsafat, maupun pengalaman manusia secara universal.

Gagasan tersebut diperkuat melalui pembahasan teori impersonalitas T.S. Eliot. Penyair tidak sekadar menumpahkan emosi secara spontan, melainkan mengolah pengalaman dan emosi menjadi bentuk artistik yang lebih luas. Dengan proses tersebut, pengalaman yang awalnya bersifat personal dapat berkembang menjadi pengalaman yang dapat dirasakan dan dipikirkan bersama oleh pembaca.

Baca Juga :  Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Raih Predikat Lulusan Terbaik Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Lampung Periode April 2026

Salah satu konsep yang diperkenalkan kepada peserta adalah objective correlative atau korelasi objektif. Melalui konsep ini, peserta diajak memahami bahwa emosi dalam puisi tidak selalu perlu dinyatakan secara langsung. Perasaan dapat dihadirkan melalui benda, suasana, peristiwa, atau situasi tertentu sehingga pembaca tidak hanya diberi tahu tentang sebuah emosi, tetapi dapat merasakan emosi tersebut melalui citraan yang dibangun dalam puisi.

Pembelajaran tersebut sekaligus mengarahkan peserta pada pemahaman bahwa puisi bukan sekadar permainan kata atau curahan perasaan, melainkan salah satu cara manusia memahami realitas. Puisi sejak lama menjadi ruang untuk menyimpan pengalaman, pengetahuan, kearifan, sejarah, pandangan tentang alam, serta persoalan manusia. Dengan demikian, penyair dapat menjadikan dunia di sekitarnya sebagai sumber penciptaan, baik melalui pengamatan maupun melalui pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kehidupan sehari-hari.
Melalui sesi bersama Ari Pahala Hutabarat dan dialog yang dipantik Raditio Wahid, peserta diharapkan tidak hanya mampu menulis puisi berdasarkan pengalaman personal, tetapi juga mampu mengolah pengalaman menjadi karya yang memiliki kedalaman bahasa, citraan, gagasan, dan hubungan dengan realitas.

Proses kreatif diarahkan untuk bergerak dari pengalaman, perasaan, pengamatan, pertanyaan, persoalan, hingga menjadi bahasa puitik. Dengan demikian, peserta tidak hanya belajar bagaimana menulis puisi, tetapi juga diajak mempertanyakan apa yang hendak dibicarakan melalui puisi dan bagaimana bahasa dapat membuat pengalaman tersebut hadir secara kuat bagi pembaca.

Residensi Sastra Cipta Puisi 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman peserta dengan pengetahuan kepenyairan dan praktik penciptaan. Melalui rangkaian kegiatan ini, Lamban Budaya Nuswantara berupaya memperkuat ekosistem sastra yang memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar, bereksperimen, berdialog, dan menciptakan karya.

“Menjaras Bahasa, Merawat Sastra” pada akhirnya bukan hanya menjadi tema kegiatan, tetapi juga menjadi ajakan untuk terus merawat kepekaan terhadap bahasa, membuka diri terhadap pengalaman, serta menemukan persoalan-persoalan kehidupan yang dapat diolah menjadi karya sastra.

Follow WhatsApp Channel metodik.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cabdin Pendidikan Wil II Prov Lampung gandeng UPT Perpustakaan UIN RI Perkuat Ekosistem Literasi Sekolah
Polinela Disoal, Fagas Laporkan Temuan ke Kemdiktisaintek RI
IPB, SEAMEO BIOTROP, dan Polinela Latih Guru se-Lampung Terapkan Ekonomi Sirkular
Rektor UIN Raden Intan Lampung Dukung Penuh Zikir dan Doa Kebangsaan Jelang HUT ke-81 RI
SMA Al-Hidayah Kalisari Angkatan 1 Sukses Laksanakan Pendidikan Demokrasi Melalui MAKESTA dan Pemilihan Ketua PK IPNU-IPPNU
Kolaborasi Kita Bersuara, Kelas Impian, Fino Badut, dan BEM UIM Hadirkan Aksi Literasi di Desa Tajimalela
Kunjungan Plt. Bupati ke Rumah Literasi Kalirejo Book Party Perkuat Sinergi Pemerintah dan Komunitas Literasi
Dukung Ekosistem Halal, MGMP PAI SMP Kota Bandar Lampung Dorong Guru Ikut Sertifikasi P3H
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 11:43 WIB

Residensi Sastra Cipta Puisi 2026 Resmi Dimulai, Ari Pahala Hutabarat Ajak Peserta Menemukan Puisi dari Pengalaman Dunia Kepenyairan hingga Proses Kreatif menulis puisi.

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:06 WIB

Cabdin Pendidikan Wil II Prov Lampung gandeng UPT Perpustakaan UIN RI Perkuat Ekosistem Literasi Sekolah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Polinela Disoal, Fagas Laporkan Temuan ke Kemdiktisaintek RI

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:05 WIB

IPB, SEAMEO BIOTROP, dan Polinela Latih Guru se-Lampung Terapkan Ekonomi Sirkular

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:49 WIB

Rektor UIN Raden Intan Lampung Dukung Penuh Zikir dan Doa Kebangsaan Jelang HUT ke-81 RI

Berita Terbaru

Hukum

ALAM BAKA Desak Kejagung Bongkar Mafia Tanah di Waykanan

Selasa, 1 Sep 2026 - 17:10 WIB