METRO, LAMPUNG — Residensi Sastra: Cipta Puisi dalam rangkaian Festival Bahasa dan Sastra 2026 Lamban Budaya Nuswantara menjadi ruang bagi peserta untuk membaca, membedah, dan mengembangkan karya puisi melalui pendekatan kritik sastra praktis.
Salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut adalah “Ambiguitas pada Puisi dan Upaya Pembacaan Dekat” yang disampaikan penyair Lampung, Bima Yuswa. Materi ini mengajak peserta melihat ambiguitas bukan sekadar ketidakjelasan makna, melainkan sebagai kemungkinan hadirnya lebih dari satu pemaknaan dalam sebuah kata, kalimat, atau situasi di dalam puisi.
Dalam pembacaan puisi, ambiguitas dapat menjadi bagian dari kecermatan penyair dalam memilih kata dan membangun hubungan antarbagiannya. Peserta diajak memperhatikan bagaimana sebuah detail dalam puisi dapat bekerja sekaligus untuk membangun suasana, memperjelas karakter, menciptakan simbol, menggerakkan imajinasi, dan menghubungkan bagian-bagian puisi.
Bima Yuswa memaparkan tiga tipe ambiguitas. Tipe pertama menempatkan sebuah detail yang dapat memberikan dampak efektif dalam beberapa hal sekaligus. Contohnya dapat dilihat dalam puisi “Baju Bulan” karya Joko Pinurbo, ketika bulan tidak hanya hadir sebagai objek dalam puisi, tetapi menjadi bagian dari cerita, suasana, dan imajinasi pembaca.
Tipe kedua adalah ketika dua makna atau lebih menyatu secara utuh menjadi satu arti. Materi ini dicontohkan melalui puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono, yang memperlihatkan bagaimana ungkapan dan perbandingan dalam puisi dapat memadatkan lebih dari satu makna ke dalam satu konstruksi bahasa.
Sementara tipe ketiga menghadirkan dua makna yang tampak tidak saling berhubungan secara bersamaan. Permainan bahasa mempertemukan dua kemungkinan makna sehingga keduanya dapat terbaca hampir dalam waktu yang sama dan menghasilkan pengertian yang lebih kaya. Salah satu contoh yang dibahas adalah potongan puisi “Doa Seorang Pesolek” karya Joko Pinurbo.
Selain membicarakan kemungkinan ambiguitas sebagai kekuatan estetik, peserta juga diajak mengenali kondisi ketika ambiguitas justru gagal bekerja. Beberapa persoalan yang dibahas meliputi penumpukan kosakata yang kabur, sintaksis dan tata bahasa yang berantakan, ketiadaan jangkar konteks, kontradiksi tanpa hubungan tematik, eksploitasi diksi tanpa tujuan estetik, serta terlalu banyak jalur tafsir yang saling meniadakan.
Contoh-contoh yang diberikan menunjukkan bahwa tidak semua ketidakjelasan otomatis menjadi ambiguitas yang produktif. Kalimat yang terlalu kabur, susunan bahasa yang tidak terarah, atau penggunaan kata-kata yang rumit tanpa fungsi estetik justru dapat membuat pembaca kehilangan pijakan dalam menafsirkan karya.
Materi tersebut kemudian menjadi bagian dari pembacaan karya dalam Residensi Sastra: Cipta Puisi. Peserta tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan puisi, tetapi juga melihat kembali pilihan kata, hubungan antarkalimat, kemungkinan makna, serta efektivitas bahasa yang digunakan dalam karya.
Selain Bima Yuswa, kegiatan menghadirkan Arif Prasetyo, M.Pd. sebagai teman ngobrol dengan topik “Publikasi dan Ekosistem Sastra Digital”. Pembahasan ini menempatkan karya sastra dalam konteks ruang publik digital, termasuk bagaimana karya dapat dipublikasikan dan berhubungan dengan pembaca serta ekosistem sastra yang berkembang melalui berbagai media.
Residensi Sastra: Cipta Puisi menjadi bagian dari Festival Bahasa dan Sastra 2026 Lamban Budaya Nuswantara dengan tema “Menjaras Bahasa, Merawat Sastra”. Kegiatan ini mempertemukan proses penciptaan, pembacaan kritis, dan pemahaman terhadap ruang publikasi sebagai bagian yang saling berkaitan dalam proses berkarya.













Komentar