Lampung Timur — Residensi Sastra Cipta Puisi Tahun 2026 resmi dibuka di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menjadi tahap inkubasi lanjutan dari Sayembara Sastra Cipta Puisi yang diselenggarakan Lamban Budaya Nuswantara dalam rangka Festival Bahasa dan Sastra Tahun 2026.
Mengangkat tema “Menjaras Bahasa, Merawat Sastra”, Residensi Sastra Cipta Puisi dirancang sebagai ruang pembinaan, apresiasi, penciptaan, dan pengembangan kreativitas generasi muda di bidang sastra, khususnya puisi. Sebanyak 30 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum terpilih mengikuti rangkaian residensi tersebut.
Pembukaan kegiatan dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah, akademisi, sastrawan, pelaku kebudayaan, dan peserta kegiatan yang terdiri dari, Indarti, S.Sos., M.M., Kepala Cabang Wilayah V Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Rima Ulfayanti, S.H., M.H., Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Lampung, yang mewakili sambutan Drs. Muhammad Muis, M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Erwin Wibowo, S.S., M.Pd – Ketua Tim KKLP Balai Bahasa Provinsi Lampung, Hasnawati Nasution, M.Pd. Ketua Tim Pembinaan Komunitas Sastra, Balai Bahasa Provinsi Lampung, Ari Pahala Hutabarat Penyair Lampung.
Dalam rangkaian pembukaan, ketua Lamban Budaya Nuswantara menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari proses kuratorial naskah melalui Sayembara Cipta Puisi. Ketua Lamban Budaya Nuswantara, Amin Budi Utomo, menyampaikan dalam sambutanya
“Dalam rangka meningkatkan ekosistem kebahasaan dan kesastraan di Provinsi Lampung khususnya di Kabupaten Lampung Timur dan Sekitarnya serta mendorong tumbuhnya ruang apresiasi dan regenerasi sastrawan muda, Lamban Budaya Nuswantara berinisiatif menyelenggarakan Festival Bahasa dan Sastra Tahun 2026 dengan mengangkat tema “Menjaras Bahasa, Merawat Sastra”. Sebagai tindak lanjut Lamban Budaya Nuswantara menyelenggarakan Residensi Sastra Cipta puisi sebagai proses lanjutan setelah dilaksanakan kuratorial naskah melalui pemanggilan peserta di Sayembara Cipta Puisi. sebagai ruang apresiasi, penciptaan, dan pengembangan kreativitas generasi muda dalam bidang sastra, khususnya puisi. Kegiatan ini menjaring 30 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum yang memiliki minat dan ketertarikan terhadap dunia sastra utamanya puisi” tuturnya.
Sedangkan menurut indarti “Kami bangga sekolah-sekolah yang berada di bawah binaan Cabang Wilayah V dapat mengambil bagian dalam kegiatan ini. Di tengah efisiensi anggaran, kegiatan sastra seperti ini masih dapat dilaksanakan. Tentu ini menjadi sesuatu yang patut kita apresiasi, karena anak-anak tetap diberikan ruang untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi mereka melalui sastra.” Ucapnya.
Rima Ulfayanti, S.H., M.H., Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Lampung yang mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Residensi Sastra Cipta Puisi 2026. Ia mengatakan bahwa Balai Bahasa Provinsi Lampung merasa bangga melihat kegiatan sastra yang mampu menghadirkan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pemuda, hingga masyarakat umum.
Menurutnya, keterbukaan peserta dari berbagai latar tersebut menjadi hal penting dalam membangun ekosistem sastra yang lebih luas. Sastra, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi ruang bagi kalangan tertentu, tetapi dapat diakses dan menjadi ruang belajar bersama bagi siapa saja yang memiliki minat terhadap bahasa dan sastra.
“Kami tentu merasa bangga dan mengapresiasi kegiatan ini, terutama karena pesertanya dapat mengakomodasi berbagai kalangan. Ada pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum. Ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi ruang bersama, ruang belajar, sekaligus ruang untuk mengembangkan kreativitas masyarakat.”
Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan bahwa kegiatan Residensi Sastra Cipta Puisi ini merupakan bagian dari program Komunitas Sastra (Komsas) yang memperoleh Bantuan Pemerintah di bidang kebahasaan dan kesastraan. Dukungan tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap keberadaan komunitas dan kegiatan sastra di masyarakat.
Ia berharap bantuan dan program tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghadirkan kegiatan yang berkelanjutan, memperluas ruang apresiasi, serta mendorong lahirnya generasi baru yang memiliki perhatian terhadap bahasa dan sastra.
“Program Komsas ini merupakan salah satu bentuk bantuan pemerintah di bidang kebahasaan dan kesastraan. Karena itu, kami berharap bantuan ini tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi peserta, komunitas, dan perkembangan ekosistem sastra di daerah.”
Setelah pembukaan, peserta langsung mengikuti sesi pembinaan. Pada hari pertama, penyair Ari Pahala Hutabarat memberikan materi Pengantar Kepenyairan dan Proses Kreatif, dilanjutkan dengan materi Teknik Dasar Penulisan Puisi. Kedua sesi tersebut menjadi pengantar bagi peserta untuk memahami kepenyairan sekaligus mengembangkan proses kreatif dalam penciptaan puisi. Rangkaian residensi kemudian berlanjut hingga Kamis, 3 September 2026. Peserta mendapatkan materi yang beragam, mulai dari pembacaan sastra dalam konteks pandangan Islam, editing dan penyuntingan karya, eksplorasi tema dan gagasan, estetika dan pendalaman makna puisi, hingga bedah karya dan kritik sastra praktis. Pada sesi terakhir, peserta juga akan mendapatkan materi mengenai publikasi dan ekosistem sastra digital.
Sejumlah sastrawan dan akademisi terlibat sebagai narasumber dalam proses pembinaan. Mereka antara lain Ari Pahala Hutabarat, Solihin Utjok, Ahmad Muzaki, dan Bima Yuswa. Materi yang diberikan disusun secara bertahap, dari pengenalan proses kreatif, pengembangan gagasan, penyuntingan, pendalaman estetika, kritik karya, hingga publikasi. Dengan pola pembinaan tersebut, Residensi Sastra Cipta Puisi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan karya melalui proses belajar dan pendampingan secara intensif.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 31 Agustus–3 September 2026, di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro, ini diharapkan dapat mempertemukan generasi muda dengan pengalaman kepenyairan, proses penciptaan, serta praktik kritik dan publikasi sastra. Residensi Sastra Cipta Puisi 2026 merupakan bagian dari upaya Lamban Budaya Nuswantara melalui dukungan Pusat Pembinaan Bahasa dan sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. untuk mendorong tumbuhnya ruang apresiasi dan regenerasi sastrawan muda sekaligus memperkuat ekosistem kebahasaan dan kesastraan di Lampung, khususnya Lampung Timur dan wilayah sekitarnya.













Komentar