Teknologi Pertanian Modern Dorong Produktivitas Padi di Lampung Tengah

- Jurnalis

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Tengah — Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi modern, pemanfaatan Pupuk Hayati Cair (PHC), penguatan pengelolaan air, serta kemandirian petani dalam penyediaan alat dan mesin pertanian (Alsintan).

Upaya tersebut terlihat saat peninjauan produksi dan pemanfaatan Pupuk Hayati Cair (PHC) yang dimanfaatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (20/08/2026).

Dalam peninjauan tersebut, petani menyampaikan adanya perubahan positif pada pertumbuhan tanaman padi setelah menggunakan PHC. Tanaman yang sebelumnya terlihat kekuningan mulai menunjukkan pertumbuhan lebih baik setelah mendapatkan perlakuan PHC.

Petani dari Gapoktan Sri Rezeki 3, Surono, mengatakan perubahan tanaman mulai terlihat sekitar satu hingga 10 hari setelah penggunaan PHC. Daun tanaman menjadi lebih hijau, batang lebih kuat, dan pertumbuhan bulir dinilai lebih baik.

“Waktu sebelum dikasih PHC, daunnya agak kuning-kuning. Setelah satu minggu sampai 10 hari, sudah bisa hijau benar. Batangnya kuat, sekarang helainya sampai ujung dan bulirnya juga bertambah,” ujar Surono.

Petani lain, Misrani juga mengatakan, tanaman padi yang mendapatkan perlakuan PHC saat ini masih dalam proses menuju panen. Ubinan dijadwalkan dilakukan dalam beberapa hari mendatang untuk mengetahui hasil produktivitas secara lebih terukur.

Menurutnya, penerapan teknologi pertanian tersebut memberikan optimisme terhadap peningkatan hasil panen. Pengalaman pada musim sebelumnya juga menunjukkan adanya peningkatan produktivitas setelah petani menerapkan PHC.

Sementara itu, petani lainnya, Suyono, menyampaikan bahwa produktivitas padi yang sebelumnya berada pada kisaran 5,2–5,5 ton per hektare dapat meningkat menjadi sekitar 6,5 ton per hektare setelah menggunakan PHC, termasuk pada musim rendeng.

“Rendeng kemarin biasanya 5,2 sampai 5,5 ton, setelah menggunakan ini bisa 6,5 ton. Hasilnya bagus,” kata Suyono.

Baca Juga :  Jalan Sehat HUT ke-344 Bandar Lampung Belangsung Meriah, Tukang Cilok dan IRT menangkan Doorprize

Ia menjelaskan, pemanfaatan PHC juga terus dikembangkan di tingkat kelompok tani. Setelah sebelumnya memproduksi sekitar 10 drum, kelompoknya kembali memproduksi empat drum untuk memenuhi kebutuhan petani dan kelompok tani di wilayah sekitar.

Selain pemanfaatan teknologi, kekompakan petani menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pertanian di Rama Nirwana.

Surono mengatakan, petani di wilayah tersebut terbiasa melakukan pengendalian hama secara bersama-sama. Penanganan tikus dan belalang tidak hanya dilakukan di lahan masing-masing, tetapi secara serentak dalam satu hamparan.

“Masalah kekompakan di sini. Kalau satu hamparan dikerjakan bersama-sama, insyaallah bisa berhasil. Untuk masalah tikus dan belalang juga kita kerjakan bersama. Kalau ada lubang tikus, tidak peduli itu sawah siapa, tetap kita tangani,” jelasnya.

Kekompakan tersebut juga terlihat dari tingginya tingkat pemanfaatan lahan. Surono menyebut sekitar 95 persen lahan pertanian di wilayah Rama Nirwana dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi kelompok tani dari berbagai daerah untuk mempelajari praktik budidaya padi modern.

“Selama empat bulan ini sudah banyak yang datang berkunjung. Ada dari Lampung Selatan, Tulang Bawang dan daerah lainnya. Mereka datang untuk belajar menanam Arkansas,” ungkapnya.

Penerapan Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) juga memberikan sejumlah dukungan bagi petani, termasuk pemanfaatan unsur silika, pestisida, hormon dan molybdenum sebagai bagian dari teknologi budidaya.

Petani menyebut penggunaan teknologi tersebut dapat membantu mempercepat masa panen hingga sekitar 10 hari. Selain itu, tahun ini petani juga mendapatkan dukungan untuk mengetahui kondisi pH tanah sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketepatan dalam pengelolaan lahan.

Pemerintah Provinsi Lampung menilai penerapan teknologi tersebut memiliki potensi besar apabila dapat diterapkan secara luas. Peningkatan produktivitas satu ton gabah per hektare saja dinilai mampu memberikan tambahan pendapatan yang cukup signifikan bagi petani.

Baca Juga :  Gubernur Lampung Sambut Baik Inisiatif Bakrie Center Foundation untuk Memperkuat BUMDes

Di sisi lain, ketersediaan air masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani di sejumlah wilayah persawahan Rama Nirwana.

Kondisi saluran irigasi dan perbedaan elevasi menyebabkan air sulit masuk ke beberapa areal persawahan, terutama ketika musim kemarau. Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan sumur bor dan pompa sebagai solusi pendukung.

Namun, keterbatasan bantuan pemerintah membuat tidak semua kelompok tani dapat memperoleh bantuan pompa secara bersamaan.

Gubernur Lampung menekankan pentingnya mekanisme gotong royong agar petani yang belum mendapatkan bantuan tetap dapat memperoleh akses air.

“Pemerintah memang membantu pompa, tetapi bantuannya terbatas dan tidak bisa semuanya sekaligus. Sambil menunggu, kita dorong gotong royong. Ada yang dapat bantuan, ada yang belum, yang belum kita bantu bersama. Yang penting semuanya kebagian air,” ujar Gubernur.

Menurutnya, mekanisme pembayaran setelah panen atau yarnen juga dapat didiskusikan di tingkat Gapoktan sebagai bentuk usaha bersama untuk mendukung operasional pompa.

Selain air, pemerintah juga mendorong Gapoktan agar mulai membangun kemandirian dalam penyediaan Alsintan.

Kepemilikan traktor, combine harvester, maupun peralatan pertanian lainnya di tingkat Gapoktan dinilai dapat membantu petani mengatasi keterbatasan akses terhadap alat saat musim tanam dan panen.

Gubernur berharap Gapoktan tidak hanya menjadi wadah kelompok tani, tetapi juga dapat berkembang menjadi unit usaha yang mampu menyediakan layanan Alsintan bagi anggotanya.

Menurutnya, kemandirian Alsintan juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan pemerintah yang jumlah dan penyalurannya dilakukan secara bertahap.

Pemerintah Provinsi Lampung akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, Gapoktan dan petani dalam memperkuat ekosistem pertanian, mulai dari penyediaan air, penggunaan pupuk hayati, pengendalian hama secara terpadu, hingga kemandirian Alsintan.

Follow WhatsApp Channel metodik.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anggaran BKAD Lambar 2023-2024 Bocor? FAGAS beberkan banyak temuan
Penyedia Bergilir dari Setda sampai RSUD, Hingga Bangun Rumah Dinas Kejari dan Klinik Polres Pakai Uang APBD Waykanan, FAGAS Pertanyakan Independensi Penegak Hukum
Tak Kunjung Ditemui, Demonstran Lampung Bentrok dengan Petugas Kementerian Imipas
FAGAS Lampung “Bongkar Aib” Pengelolaan Anggaran Dinas PUPR Pringsewu
JPSI Seret Dugaan Skandal KI dan KPID ke APH
Dominasi Penyedia di BPBJ Tanggamus, FAGAS: Sarat Pengondisian
FAGAS Bongkar Pola Janggal Belanja Sekwan Pringsewu
Kasus Diskominfo Lamsel Bergulir, FAGAS Ungkap Pola Janggal Belanja Rp 12 Miliar 
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 21:46 WIB

Anggaran BKAD Lambar 2023-2024 Bocor? FAGAS beberkan banyak temuan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Tak Kunjung Ditemui, Demonstran Lampung Bentrok dengan Petugas Kementerian Imipas

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:12 WIB

FAGAS Lampung “Bongkar Aib” Pengelolaan Anggaran Dinas PUPR Pringsewu

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:41 WIB

JPSI Seret Dugaan Skandal KI dan KPID ke APH

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:33 WIB

Dominasi Penyedia di BPBJ Tanggamus, FAGAS: Sarat Pengondisian

Berita Terbaru

Pemerintahan

Anggaran BKAD Lambar 2023-2024 Bocor? FAGAS beberkan banyak temuan

Minggu, 1 Nov 2026 - 21:46 WIB